Cappucino Yang tak sama



Night guys. yuk sebelum tidur intip cerita sederhana ini, aku mau kasih sedikit dongeng yang emang ngga bagus - bagus amat sih, iseng-iseng buatan aku nih. langsung aja ya yuk di R, tinggalin jga komentar positifnya. monggo..

Cappucino Yang tak sama



Malam ini rembulan terlihat bulat sempurna. Namun Diorita – Die - hanya terdiam di pojok café sambil memegang secangkir cappucino hangat favoritnya. Ia berulang kali melihat kearah jendela dan layar handphonenya.
Ekspresi wajahnya begitu gelisah. Harapannya hanya satu : kekasih yang ia tunggu segera tiba menemuinya. Satu jam sudah Die menunggu tanpa kabar.
Rasa cemas tiba – tiba melanda pikirannya, ia membayangkan hal buruk terjadi pada Sion kekasihnya. Sikap apa yang harus Die lakukan apa ia tetap harus bertahan dikursi itu? Atau pergi mengunjungi rumah sion? Semua itu semakin membuat Die khawatir.
Cappucino dingin favorit sion sudah berubah wujudnya. Hati Die semakin gundah.

“Die, maaf aku telat”
Die menoleh saat sebias suara sampai ke gendang telingnya dengan suara yang cukup berat.
Sion. Akhirnya orang yang sangat Die tunggu sampai kehadapannya dengan keadaan yang seperti biasa, baik saja. Sion langsung menarik kursi untuk ia segera bergegas duduk di hadapan Die. Mereka hanya saling menatap. Terlihat dari mata Die ia bertanya – tanya apa yang terjadi pada kekasihnya kenapa ia tak seperti biasanya? Mata Sionpun terlihat sedang menyembunyikan suatu rahasia pada kekasihnya.
“setidaknya aku jauh lebih tenang” kata Die dengan suara lembutnya memecahkan suasanya yang sedari tadi terkesan lebih tegang.
“maaf yah Die aku telat, aku juga tak bisa menghubungimu tadi..” jelas sion merasa tak enak dengan die.
“darimana saja? Cappuccino mu sudah menunggu sampai ia lelah dan bahkan es batu yang berada dalam gelas cappuccino mu sudah tak berani bertahan. Minumlah cappuccino mu atau aku perlu pesankan cappuccino baru buat kamu?” tawar Die penuh perhatian.
“biar aku minum ini” setelah sion menghabiskan segelas cappuccino dinginnya ia segera  mengajak Die pergi ke tempat lain.
Sion berdiri meninggalkan kursinya dan segera mengajak Die kelauar dari café dengan menggandeng tangannya.
“mau kemana?” Tanya die penuh rasa khawatir.
Sion hanya terdiam dan terus menggandeng tangan kekasihnya sampai ke tempat yang sion tuju. Mereka duduk di bangku-bangku yang disediakan pihak kafe di atas gedung kafe itu.
Tetap sama, tak ada yang berinisiatif untuk memulai berbicara. Suasana malam yang seharusnya indah dengan rembulan sempurna terasa menjadi suasana asing untuk die.
“Seharusnya sion sudah memulai pembicaraan ini, katanya sebelum kami bertemu ada yang ingin ia sampaikan? Tapi mengapa suasana di sini sangat membisu?” Ucap Die dalam hatinya.
Mereka duduk bersebelahan layaknya sepasang kekasih tapi merekapun terlihat seperti orang yang tak saling saling kenal karena saling membisu.
Tetapi tidak, setelah sepuluh menit keadaan masih sama. Sion tidak mengatakan apapun, tidak melakukan apapun. Matanya memandang ke tempat lain selain Die. Mereka saling tersiksa karena bisu yang mereka buat sendiri.
Die terlihat tak berani merusak hening yang mereka ciptakan, hanya menatap jutaan lampu di gedung yang menjadi pemandangan indah diatas sana, suasana perlahan semakin mendatangkan cahaya pijar malam. Malam semakin merangkak naik.
Die ingin sekali bertanya, tetapi entah kenapa, ia memilih untuk menutup mulut. Seolah-olah rohnya masih tertinggal di café bawah tadi.
Sion memang sudah bersikap aneh sejak siang tadi, sejak ia menghubungi die untuk bertemu mala ini.
“apa kamu tak ingin bertanya?” kata sion memecahkan suara dengan suara beratnya.
“apa?” ucap polos Die.
“sikap ku?” tetap tak memandang wajah die. “ada apa?” die memang terlihat sangat polos.
“aku akan pergi melanjutkan pendidikanku ke belanda” ujar sion.
“apa itu harus? Bagaimana dengan kita?” ujar die.
Sion pun mulai berani menatap mata kekasihnya itu. “itu yang ingin aku bicarakan, sepertinya aku tak akan bisa bertahan karena aku tau kau tak pernah suka dengan hubungan berjarak bukan?”
“iya memang, terus bagaimana? Ucap die mendesak.
“aku tak akan tega membiarkan mu sedih menungguku disini. Dua tahun memang sebentar, tapi akan terasa lama jika kamu harus menunggu aku datang kembali.” Ujarnya sambil mengusap air mata yang tiba-tiba menetes dari kelopak mata kekasihnya.
“kita putus?” ujar die.
“sepertinya memang harus seperti itu die. Agar kamu bisa mendapat orang lain yang selalu bisa ngejagain kamu disini, aku tak mau kau bersedih karena keadaan kita” jelasnya.
“baiklah, bisa kita pulang sekarang? Aku ingin turun dari atas sini. Kamu tahukan aku benci ketinggian? Tapi apa kamu tahu mengapa aku berani disini? Itu semua karena kamu sion” jelas die.
“maafin aku die..”
“kita pulang saja ya? Aku rindu rumahku” ajak die.
“Sebenarnya aku merasa tak ada yang salah dengan hubungan ini jika harus dilanjutkan die. Kecuali bahwa kau memang tak terima aku tinggal di Belanda, dan kamu di Malang memang intensitas pertemuan kita akan kurang, tapi menurutku komunikasi yang terjalin di antara kita akan terus baik.” Jelas sion meyakinkan die.
“Entahlah, aku hanya merasa ada sesuatu yang salah jika kita harus memiliki jarak yang sangat jauh. Aku memang mencintaimu, itu pasti. Tetapi ini akan mengganggu pikiranku tentang hubungan kita jika jarak itu akan ada.”
“tapi aku akan pergi untuk kembali padamu, aku akan menjadi orang mapan untuk melamar kamu untuk ngebahagiain kamu sesuai dengan cita-cita kita, apa kamu lupa?” sion terus menjelaskan.
“sudahlah” ujar die.
Die memang orang yang keras jika ia tak suka selamanya ia tak akan pernah suka dan apa yang ia suka harus dapat ia wujudkan, dan jika gagal artinya memang tak pantas dan harus dia tinggal.
“tapi nanti aku akan kembali ke Indonesia bekerja dan kemudian menjadi suamimu. Sudah sepantasnya, akulah yang harus memenuhi semua kebutuhanmu. Sementara, gaya hidupmu begitu kelas satu. Aku tak mampu jika aku harus terus seperti ini.”
“kita masih terlalu muda untuk membahas keseriusan ini, jangan memaksa. Aku memang masih mencintaimu tapi aku benci jarak, setelah lulus sma ini aku akan tetap di Jakarta melanjutkan pendidikan ku disini banyak universitas baik disini, kita memang tak sama jadi tak perlu di paksakan pemikiran kita sudah mulai berbeda sion..”
“jika mau kamu terus seperti itu baiklah, aku terima. Tapi aku berjanji akan berjuang untukmu..”
Mereka berdua turun dari atas gedung sana. Hubungan mereka benar-benar berakhir sampai disini, mereka mungkin memang sama cappuccino tapi mereka dua adalah dua hal sama yang tak bisa di persatukan.

Hubungan mereka kini tinggal kenangan. Berlarian di benak mereka. Permintaan sion untuk mempertimbangkan hubungan ini membuat ia merasa kecewa.
Dalam hatinya Sion berjanji akan kembali untuk memperjuangkan cintanya walapun katanya cinta sanggup menjaga namun faktanya justru keresahan yang saling merajai fikran mereka, sekarang ini.

First
Afidah Khairina || 1B - D4 Teknik Informatika